Friday, November 6, 2009

~Invisible Tears~

I just want to cry right now - I mean, really cry my heart out and let out everything that I'm feeling at this moment.

It's weird actually, but there are times in my life that I just feel like crying, and really weep - but for no apparent reasons.

It's not like I'm in some kind of trouble or what ever. But this odd feeling or sensation of "being emotional" would always hit me once in a blue moon.

It becomes a type of emotional release that would somehow make me feel more at ease later on with myself....

And so, when this tide of feelings gushes my tears out, I somehow feel better - somehow healed, in a semi-spiritual sense .

Like when rainbows bring the sunshine after the storm...

But until that time comes, the invisible tears that I keep in my heart
will keep flooding the dam of my soul.

That's why I need to open the dam's doors.

But where can I find the doors? To my heart?


Sejujur mana-kah Pujian-mu?

Saat engkau tuturkan
kata-kata manis berbaur harum
tentang kelebihan-kelebihan
yang engkau panggil sebagai keistimewaan-ku,

di hadapan ku

FIKIRKANLAH....
DALAMILAH...
SELAMILAH...
hati dan jiwa mu

dan cubalah engkau berikan aku jawapan-mu yang paling ikhlas:

"Sejujur mana-kah Pujian-mu?"

benarkah ia jujur dan penuh tulus
atau hanya lah topengan-topengan palsu
yang engkau pakaikan di wajah dan kejadian-mu
demi untuk melihat ku leka
lantas terus di belakang ku
kau sambungi pula
dengan caci dan keji

kata-kata nista.

Sunday, November 1, 2009

Senja usia amat samar waktunya


Dalam kesamaran waktu, aku masih setia lagi menunggu. Janji tetap janji, walaupun hakikatnya janji boleh dimungkiri.

Dan dalam kesamaran waktu ini juga, aku tertanya-tanya akan nasib diriku sendiri - masihkah punya ruang untuk aku langkaui keterbatasan dan kelemahan diri untuk mencari sesuatu yang lebih hakiki, yang lebih abadi?

Hanya Tuhan yang Maha Esa sahaja yang kekal azali.

Sedangkan insan masih terkapai-kapai mencari identiti diri...

Akhirnya, dalam ruang masa berbaki yang sangat sempit ini, aku ulangi JANJIku kepada diri sendiri (entah untuk yang ke-berapa kali) - dan tekad serta istiqamahku akan kugagahi menunaikan apa yang telah aku lafazkan di depan Tuhan Yang Maha Mengasihani.

Biarlah aku rela dan redha menjadi manusia yang dianiayai dan teraniaya, daripada tanganku menganiaya saudaraku sendiri.

In silence again, I shall nurse the wounds of my heart so that my soul will not be in pain anymore - and so that the only pain that I'll ever cherish is the hurt one feels for the pain of love towards Allah. Amin...

Sebesar-besar pengorbanan yang pernah aku lakukan, pasti ada insan lain yang pernah melakukan pengorbanan yang lebih besar.