Sunday, November 1, 2009

Senja usia amat samar waktunya


Dalam kesamaran waktu, aku masih setia lagi menunggu. Janji tetap janji, walaupun hakikatnya janji boleh dimungkiri.

Dan dalam kesamaran waktu ini juga, aku tertanya-tanya akan nasib diriku sendiri - masihkah punya ruang untuk aku langkaui keterbatasan dan kelemahan diri untuk mencari sesuatu yang lebih hakiki, yang lebih abadi?

Hanya Tuhan yang Maha Esa sahaja yang kekal azali.

Sedangkan insan masih terkapai-kapai mencari identiti diri...

Akhirnya, dalam ruang masa berbaki yang sangat sempit ini, aku ulangi JANJIku kepada diri sendiri (entah untuk yang ke-berapa kali) - dan tekad serta istiqamahku akan kugagahi menunaikan apa yang telah aku lafazkan di depan Tuhan Yang Maha Mengasihani.

Biarlah aku rela dan redha menjadi manusia yang dianiayai dan teraniaya, daripada tanganku menganiaya saudaraku sendiri.

In silence again, I shall nurse the wounds of my heart so that my soul will not be in pain anymore - and so that the only pain that I'll ever cherish is the hurt one feels for the pain of love towards Allah. Amin...

Sebesar-besar pengorbanan yang pernah aku lakukan, pasti ada insan lain yang pernah melakukan pengorbanan yang lebih besar.

No comments:

Post a Comment